MATERI RUANG DIALEKTIKA
PMII Rayon Ekonomi & Bisnis —
Komisariat Bela Negara
"Membangun Gerbang Ilmu Tanpa
Sekat"
Narasumber: Hutama Muhammad Devan
Anhari |
Nineteen Cafe, 7 Mei 2026
PENGANTAR: MENGAPA EKONOMI PENTING BAGI
KADER PMII?
Islam tidak memisahkan urusan akhirat dari kehidupan dunia. Salah satu pesan inti Ahlussunnah wal Jama'ah (ASWAJA) adalah tawazun—keseimbangan. Keseimbangan antara dzikir dan fikir, antara ibadah ritual dan tanggung jawab sosial, antara kepentingan individu dan kemaslahatan ummat.
Ekonomi adalah salah satu arena paling
nyata dari tanggung jawab sosial itu. Setiap hari, jutaan orang Indonesia
membuat keputusan ekonomi: membeli, menjual, bekerja, berinvestasi. Di level
nasional, pemerintah mengatur kebijakan fiskal dan moneter yang berdampak
langsung pada daya beli rakyat. Kader PMII yang tidak memahami dinamika ini
akan kehilangan kemampuan untuk berpihak secara cerdas—bukan hanya
emosional—kepada kepentingan publik.
|
"Kader
PMII bukan hanya aktivis jalanan, tetapi juga intelektual yang mampu membaca
realitas secara kritis dan menawarkan solusi yang solutif. Pemahaman ekonomi
adalah syarat minimal untuk itu." |
Materi ini disusun dalam dua bagian besar:
Ekonomi Mikro dan Ekonomi Makro, yang kemudian diintegrasikan dalam perspektif
ASWAJA dan implikasi gerakan bagi kader PMII.
BAGIAN I: EKONOMI MIKRO
A. Pengertian dan Ruang Lingkup
Ekonomi mikro adalah cabang ilmu ekonomi
yang mempelajari perilaku individu, rumah tangga, dan pelaku usaha dalam
mengambil keputusan terkait alokasi sumber daya yang terbatas. Kata kuncinya
adalah kelangkaan (scarcity)—karena sumber daya selalu terbatas, setiap pilihan
ekonomi pasti mengandung biaya kesempatan (opportunity cost).
Tiga pertanyaan dasar ekonomi mikro adalah:
Apa yang diproduksi? Bagaimana cara memproduksinya? Untuk siapa barang/jasa
tersebut diproduksi? Jawaban atas ketiga pertanyaan ini menentukan bagaimana
kesejahteraan terdistribusi di tingkat masyarakat.
B. Konsep Inti Ekonomi Mikro
1. Teori
Permintaan (Demand)
Permintaan adalah jumlah barang atau jasa
yang bersedia dan mampu dibeli oleh konsumen pada berbagai tingkat harga dalam
suatu periode tertentu, dengan asumsi faktor lain tetap (ceteris paribus).
Hukum permintaan menyatakan: semakin tinggi harga, semakin rendah jumlah yang
diminta—dan sebaliknya.
Faktor yang memengaruhi permintaan selain
harga antara lain: pendapatan konsumen, harga barang substitusi dan
komplementer, selera dan preferensi, serta ekspektasi harga di masa depan.
2. Teori
Penawaran (Supply)
Penawaran adalah jumlah barang atau jasa
yang bersedia dijual produsen pada berbagai tingkat harga. Hukum penawaran:
semakin tinggi harga, semakin besar jumlah yang ditawarkan. Faktor penentu
penawaran mencakup biaya produksi, teknologi, harga input, jumlah produsen di
pasar, dan kebijakan pemerintah.
3.
Elastisitas
Elastisitas mengukur seberapa responsif
permintaan atau penawaran terhadap perubahan harga atau variabel lain. Produk
kebutuhan pokok cenderung inelastis (perubahan harga tidak banyak mengubah
jumlah yang diminta), sementara produk mewah atau produk dengan banyak
substitusi cenderung elastis.
4.
Struktur Pasar
|
Jenis Pasar |
Jumlah Penjual |
Contoh |
Implikasi |
|
Persaingan Sempurna |
Sangat banyak |
Pasar beras, sayur |
Harga terbentuk pasar, efisien |
|
Monopoli |
Satu |
PLN (listrik) |
Harga ditentukan monopolis |
|
Oligopoli |
Beberapa |
Industri telekomunikasi |
Persaingan strategis antar pemain |
|
Monopolistik |
Banyak, produk diferensiasi |
Restoran, fashion |
Persaingan merek & kualitas |
C. Studi Kasus: UD. Rimba Karya & Basis
Store Paperbag
Untuk memperkuat pemahaman konsep mikro,
kita akan menganalisis dua usaha konkret yang dikenal oleh kader PMII kita
sendiri: UD. Rimba Karya dan Basis Store Paperbag. Keduanya adalah contoh nyata
dari pelaku ekonomi mikro di sektor informal dan UMKM—segmen yang paling dekat
dengan kehidupan rakyat dan sekaligus paling rentan.
UD.
Rimba Karya — Analisis Mikro
UD. Rimba Karya bergerak di sektor produksi
berbasis sumber daya alam/material, yang merupakan representasi dari pelaku
usaha produksi di pasar persaingan. Dari perspektif ekonomi mikro, beberapa
dinamika penting dapat diidentifikasi:
•
Keputusan Produksi: UD. Rimba Karya harus menentukan
berapa unit output yang diproduksi berdasarkan perbandingan antara biaya
marginal (MC) dan penerimaan marginal (MR). Kondisi optimal tercapai saat MC =
MR.
•
Struktur Biaya: Usaha ini menanggung biaya tetap (sewa
tempat, mesin) dan biaya variabel (bahan baku, tenaga kerja harian). Efisiensi
biaya sangat menentukan daya saing di pasar.
•
Harga Input dan Pasar: Fluktuasi harga bahan baku
(kayu, material alam) langsung memengaruhi struktur biaya. Ketika harga kayu
naik misalnya, kurva penawaran UD. Rimba Karya bergeser ke kiri—jumlah yang
ditawarkan berkurang pada harga yang sama.
•
Pasar yang Dihadapi: Jika UD. Rimba Karya menjual
produk yang terdiferensiasi (produk khas, hasil kerajinan), maka struktur
pasarnya mendekati persaingan monopolistik, di mana branding dan kualitas
menjadi faktor kompetitif utama.
Basis
Store Paperbag — Analisis Mikro
Basis Store Paperbag adalah unit usaha yang
bergerak di bidang produksi dan distribusi paperbag—produk kemasan ramah
lingkungan. Ini adalah contoh menarik dari usaha yang merespons perubahan
preferensi konsumen sekaligus regulasi lingkungan.
•
Permintaan yang Berubah: Tren konsumsi yang semakin
sadar lingkungan (green consumerism) mendorong permintaan paperbag meningkat.
Ini adalah contoh nyata pergeseran kurva permintaan ke kanan karena perubahan
selera konsumen.
•
Elastisitas dan Segmentasi: Paperbag memiliki beberapa
segmen pasar—kafe, toko ritel, brand fashion lokal. Setiap segmen memiliki
elastisitas harga yang berbeda. Pembeli korporat (brand fashion) cenderung
lebih inelastis karena paperbag adalah biaya kecil dari total produksi mereka.
•
Keunggulan Kompetitif: Dalam struktur pasar persaingan
monopolistik, Basis Store bersaing tidak hanya melalui harga, tetapi juga
desain, kualitas cetak, dan kecepatan pengiriman. Di sinilah inovasi menjadi
kunci.
•
Biaya Peluang (Opportunity Cost): Setiap keputusan
produksi—misalnya memilih jenis bahan atau ukuran cetak—mengandung biaya
peluang. Memilih memproduksi paperbag premium berarti mengorbankan kapasitas
untuk produk standar, dan sebaliknya.
|
Pelajaran PMII dari Kasus
Mikro |
|
UD.
Rimba Karya dan Basis Store Paperbag bukan sekadar usaha bisnis biasa.
Keduanya adalah wajah nyata dari perekonomian rakyat: berjuang di tengah
fluktuasi harga bahan baku, keterbatasan modal, dan persaingan pasar. Kader
PMII perlu mampu membaca kondisi ini secara analitis—bukan hanya
bersimpati—agar advokasi dan keberpihakan yang dilakukan benar-benar efektif
dan berbasis fakta, bukan asumsi. |
D. Relevansi ASWAJA dalam Ekonomi Mikro
Dalam perspektif ASWAJA, prinsip tawassuth
(jalan tengah) sangat relevan untuk melihat relasi antara produsen dan
konsumen. Islam tidak menolak mekanisme pasar, tetapi menolak eksploitasi.
Larangan riba, penimbunan (ihtikar), dan manipulasi timbangan semuanya adalah
bentuk koreksi Islam terhadap kegagalan pasar (market failure).
Usaha seperti UD. Rimba Karya dan Basis
Store Paperbag yang dijalankan dengan jujur, tidak menipu konsumen, dan memberi
upah yang layak kepada pekerja, sesungguhnya sudah mengimplementasikan
nilai-nilai muamalah Islamiyah dalam aktivitas ekonomi sehari-hari.
BAGIAN II: EKONOMI MAKRO
A. Pengertian dan Indikator Utama
Ekonomi makro adalah cabang ilmu ekonomi
yang mempelajari perekonomian secara agregat—keseluruhan, bukan individual.
Jika mikro bertanya "bagaimana keputusan satu warung makan?", makro
bertanya "bagaimana kinerja seluruh sektor akomodasi dan makanan-minuman
di Indonesia?"
Indikator makro yang paling sering
digunakan adalah:
•
Produk Domestik Bruto (PDB): Nilai total barang dan
jasa yang diproduksi dalam suatu negara dalam periode tertentu.
•
Laju Inflasi: Persentase kenaikan harga umum dari waktu
ke waktu. Inflasi rendah dan stabil adalah tanda ekonomi sehat.
•
Tingkat Pengangguran: Persentase angkatan kerja yang
tidak memiliki pekerjaan.
•
Neraca Perdagangan: Selisih antara nilai ekspor dan
impor. Surplus berarti ekspor lebih besar dari impor.
•
Nilai Tukar (Kurs): Harga mata uang domestik terhadap
mata uang asing.
B. Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Q1 2026 —
Data Terbaru
|
BREAKING: Data BPS, 5 Mei
2026 |
|
Ekonomi
Indonesia tumbuh 5,61 persen secara year-on-year (YoY) pada Kuartal I 2026.
Ini adalah pertumbuhan kuartal pertama tertinggi dalam 13 tahun
terakhir—melampaui capaian kuartal I 2025 yang hanya 4,87 persen. PDB atas
dasar harga berlaku tercatat Rp 6.187,2 triliun. Indonesia juga mencatat
pertumbuhan tertinggi di antara negara-negara G20 yang sudah merilis data. |
Apa yang
Mendorong 5,61%?
Berdasarkan rilis BPS, pertumbuhan ekonomi
Q1 2026 ditopang oleh beberapa faktor utama:
|
Komponen |
Pertumbuhan / Kontribusi |
Keterangan |
|
Konsumsi Rumah Tangga |
~5,52% YoY / Kontribusi 2,94% |
Motor utama; didorong Ramadan & Lebaran |
|
Konsumsi Pemerintah |
21,81% YoY / Kontribusi 1,26% |
Strategi frontloading belanja negara |
|
PMTB (Investasi) |
~5,96% YoY / Kontribusi 1,79% |
Termasuk pembangunan SPPG MBG |
|
Ekspor |
0,90% YoY |
Lemah, tertekan permintaan global |
|
Impor |
7,18% YoY |
Naik akibat permintaan domestik tinggi |
Sektor
dengan Pertumbuhan Tertinggi
|
Lapangan Usaha |
Pertumbuhan |
Faktor Pendorong |
|
Akomodasi & Makan Minum |
13,14% |
Momentum Ramadan + perluasan MBG |
|
Peternakan (sub-pertanian) |
11,84% |
Permintaan ayam & telur untuk MBG |
|
Pertanian |
4,97% |
Perluasan MBG + produksi meningkat |
|
Konstruksi |
5,49% |
Pembangunan SPPG dan Kopdes Merah Putih |
|
Industri Pengolahan |
~5% YoY |
Permintaan domestik stabil |
C. Peran Program Makan Bergizi Gratis (MBG)
dalam Pertumbuhan
Salah satu temuan paling menarik dari rilis
BPS Q1 2026 adalah pengakuan eksplisit bahwa Program Makan Bergizi Gratis (MBG)
berkontribusi nyata terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. Ini bukan sekadar
program sosial—tetapi juga kebijakan yang memiliki efek pengganda ekonomi yang
signifikan.
Tiga
Jalur Kontribusi MBG terhadap PDB
•
Jalur Konstruksi: Pembangunan masif Satuan Pelayanan
Pemenuhan Gizi (SPPG) menjadi bagian dari Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB).
Data Badan Gizi Nasional mencatat 27.427 SPPG telah beroperasi per 5 Mei
2026—melonjak tajam dari hanya 900 unit pada Maret 2025. Setiap dapur MBG yang
dibangun adalah aktivitas konstruksi yang berkontribusi pada PDB.
•
Jalur Pertanian & Peternakan: Perluasan cakupan MBG
menciptakan permintaan yang stabil dan besar-besaran terhadap bahan
pangan—beras, sayur, daging ayam, telur. Ini mendorong pertumbuhan sektor
pertanian 4,97% dan peternakan 11,84% secara tahunan.
•
Jalur Penyediaan Makanan-Minuman: Operator SPPG dan
pelaku usaha katering yang melayani distribusi MBG turut mendorong sektor
makanan-minuman tumbuh 13,14%, menjadi sektor dengan pertumbuhan tertinggi di
Q1 2026.
|
"Perluasan
cakupan program MBG turut mendorong permintaan di sektor penyediaan makanan
dan minuman serta peternakan, sementara pembangunan fisik SPPG memberikan
dampak positif terhadap PMTB." — Kepala BPS Amalia Adininggar
Widyasanti, 5 Mei 2026 |
Catatan
Kritis atas Pertumbuhan 5,61%
Meski angka 5,61% patut diapresiasi, kader
PMII perlu membaca data ini secara kritis dan tidak parsial. Ada beberapa
catatan penting:
1.
Faktor Musiman: Sebagian besar dorongan konsumsi
berasal dari momentum Ramadan dan Lebaran. Pertumbuhan musiman ini cenderung
tidak berkelanjutan dan berpotensi melandai di Q2 2026 setelah efek musiman
mereda.
2.
Defisit APBN: Di balik pertumbuhan tinggi, APBN
mencatat defisit Rp 240,1 triliun atau 0,93 persen terhadap PDB. Strategi
frontloading (percepatan belanja di awal tahun) yang mendorong pertumbuhan ini
memiliki konsekuensi fiskal jangka panjang.
3.
Pertumbuhan vs Ketimpangan: Pertumbuhan PDB yang tinggi
tidak otomatis berarti seluruh lapisan masyarakat menikmati hasilnya.
Pertanyaan tentang distribusi kesejahteraan—siapa yang paling diuntungkan—tetap
relevan.
4.
Tekanan Eksternal: Ekspor hanya tumbuh 0,90% YoY,
mencerminkan lemahnya permintaan global. Ketergantungan pada komoditas membuat
ekonomi Indonesia rentan terhadap fluktuasi harga dunia.
D. Kebijakan Fiskal dan Moneter
Kebijakan
Fiskal
Kebijakan fiskal adalah instrumen
pemerintah dalam mengatur perekonomian melalui pengelolaan APBN—pendapatan
negara (pajak dan non-pajak) serta belanja negara. Pada Q1 2026, pemerintah
menerapkan strategi frontloading: belanja negara dipercepat sejak Januari,
dengan total realisasi Rp 815 triliun (tumbuh 31,4% YoY). Strategi ini terbukti
efektif memompa permintaan agregat di awal tahun.
Program MBG sendiri adalah contoh kebijakan
fiskal ekspansif yang memiliki dampak berganda—tidak hanya sebagai jaring
pengaman sosial, tetapi juga sebagai stimulus ekonomi langsung.
Kebijakan
Moneter
Bank Indonesia (BI) menjalankan kebijakan
moneter melalui pengendalian suku bunga acuan (BI Rate) dan pengelolaan
likuiditas perbankan. Per Q1 2026, BI memperkirakan pertumbuhan ekonomi
sepanjang 2026 berada dalam rentang 4,9% hingga 5,7%. Suku bunga acuan
diperkirakan tetap di level 4,75% sepanjang tahun, dengan inflasi yang masih
terjaga dalam target 2,5% ± 1%.
|
Koneksi Mikro-Makro: Kasus
UD. Rimba Karya & Basis Store dalam Lanskap Makro |
|
Pertumbuhan
5,61% bukan angka abstrak. Ia berdampak langsung pada usaha-usaha seperti UD.
Rimba Karya dan Basis Store Paperbag. Ketika konsumsi rumah tangga tumbuh
5,52%, permintaan terhadap produk kemasan dan kerajinan ikut meningkat.
Ketika sektor makanan-minuman tumbuh 13,14%, pesanan paperbag untuk kafe dan
restoran naik. Ketika inflasi terkendali, biaya bahan baku tidak melonjak
liar. Inilah hubungan konkret antara kebijakan makro dan realitas usaha mikro
di lapangan. |
BAGIAN III: PASAR MODAL — PENGANTAR
Pasar modal adalah tempat bertemunya pihak
yang membutuhkan dana (emiten/perusahaan) dengan pihak yang memiliki kelebihan
dana (investor). Di Indonesia, pasar modal direpresentasikan oleh Bursa Efek
Indonesia (BEI). Instrumen utama yang diperdagangkan adalah saham (kepemilikan
perusahaan) dan obligasi (surat utang).
Mengapa Pasar Modal Relevan bagi Kader PMII?
•
Pasar modal adalah cermin kesehatan ekonomi makro.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sering dijadikan barometer sentimen investor
terhadap kondisi ekonomi nasional.
•
Keputusan investasi di pasar modal dipengaruhi oleh
indikator makro: pertumbuhan PDB, inflasi, suku bunga, dan nilai tukar. Ini
adalah contoh nyata bagaimana makro memengaruhi keputusan mikro.
•
Dari perspektif keadilan ekonomi, pasar modal yang
sehat dan inklusif memungkinkan masyarakat lebih luas—termasuk UMKM—untuk
mengakses pendanaan. Namun pasar modal yang spekulatif dan tidak transparan
justru memperlebar ketimpangan.
Dalam konteks ASWAJA, prinsip i'tidal
(proporsionalitas) dan tawazun (keseimbangan) mengarahkan kita untuk mendukung
pasar modal yang produktif dan berorientasi nilai—bukan spekulasi jangka
pendek. Investasi syariah dan reksa dana syariah adalah salah satu bentuk
konkret dari hal ini.
BAGIAN IV: INTEGRASI ASWAJA DALAM ANALISIS
EKONOMI
A. Empat Prinsip ASWAJA sebagai Landasan
Analisis Ekonomi
ASWAJA bukan hanya doktrin akidah dan
fiqh—ia adalah manhaj (cara pandang) yang dapat diterapkan dalam membaca
realitas sosial-ekonomi. Empat prinsip dasar ASWAJA memberikan panduan yang
kaya untuk analisis ekonomi:
1.
Tawassuth (Moderasi / Jalan Tengah)
Dalam ekonomi, tawassuth berarti menolak
dua ekstrem: kapitalisme tanpa batas yang mengorbankan keadilan sosial, dan
sosialisme total yang mematikan inisiatif individu. Islam mengakui kepemilikan
privat (hak milik) sekaligus mewajibkan fungsi sosial harta (zakat, infak,
sedekah). Ekonomi pasar boleh, tetapi harus diimbangi mekanisme redistribusi.
2.
Tawazun (Keseimbangan)
Tawazun dalam ekonomi berarti keseimbangan
antara pertumbuhan dan pemerataan, antara efisiensi dan keadilan, antara
kepentingan investor dan kepentingan pekerja. Pertumbuhan PDB 5,61% yang kita
rayakan hari ini perlu disertai dengan pertanyaan: apakah manfaatnya
terdistribusi secara merata? Ini adalah pertanyaan tawazun.
3.
I'tidal (Proporsionalitas)
I'tidal mengajarkan bahwa kebijakan ekonomi
harus proporsional—tidak berlebihan dan tidak kekurangan. Kebijakan fiskal
ekspansif seperti MBG adalah baik, tetapi jika menimbulkan defisit fiskal yang
tidak terkelola, ia bisa merugikan generasi mendatang. Kader PMII yang
berpegang pada i'tidal akan mampu mengapresiasi kebijakan yang baik sekaligus
mengkritisi eksesnya.
4.
Tasamuh (Toleransi)
Dalam konteks ekonomi, tasamuh berarti
membuka ruang bagi keberagaman model bisnis dan pendekatan ekonomi—termasuk
ekonomi syariah, ekonomi konvensional yang etis, koperasi, dan UMKM. Tidak ada
monopoli kebenaran dalam cara berniaga, selama tidak bertentangan dengan
prinsip keadilan dan tidak merugikan pihak lain.
B. Kritik Ekonomi ala PMII: Membaca di Balik
Angka
Kader PMII perlu memiliki kemampuan membaca
ekonomi secara kritis—tidak hanya menerima angka pertumbuhan sebagai kebenaran
tunggal. Beberapa pertanyaan kritis yang perlu selalu diajukan:
•
Siapa yang paling menikmati pertumbuhan PDB 5,61%?
Apakah UMKM dan pekerja informal turut merasakan, atau hanya korporasi besar?
•
Apakah program MBG benar-benar menyentuh kelompok
paling rentan—anak-anak stunting di daerah terpencil—atau lebih banyak menyasar
kelompok yang sudah relatif terjangkau?
•
Bagaimana strategi frontloading belanja pemerintah
berdampak pada fiskal jangka panjang? Siapa yang menanggung defisit APBN?
•
Apakah pertumbuhan sektor akomodasi dan makanan-minuman
13,14% dinikmati oleh pelaku UMKM seperti warung dan katering kecil, atau
dominan dikuasai waralaba besar?
|
Tugas
kader PMII bukan sekadar mengutip angka pertumbuhan dalam orasi. Tugasnya
adalah mengurai angka itu, menanyakan siapa yang di dalam dan siapa yang di
luar, lalu menawarkan agenda advokasi yang konkret dan berbasis data. |
BAGIAN V: LANGKAH KONKRET KADER PMII PASCA
MATERI INI
A. Tiga Level Respons Kader
Level 1
— Individu: Literasi Ekonomi
1.
Biasakan membaca data makroekonomi terbaru dari BPS,
Bank Indonesia, dan Kemenkeu—bukan sekadar dari media sosial.
2.
Pahami kondisi usaha di sekitar Anda—termasuk UMKM
milik keluarga atau komunitas—melalui kacamata mikro.
3.
Mulai praktikkan prinsip ASWAJA dalam pengelolaan
keuangan pribadi: hindari riba, jujur dalam transaksi, sisihkan untuk yang
membutuhkan.
Level 2
— Organisasi: Advokasi Berbasis Data
4.
Jadikan kajian ekonomi sebagai agenda rutin PMII
Komisariat—tidak hanya diskusi politik dan ideologi.
5.
Bangun database sederhana mengenai kondisi UMKM di
sekitar kampus atau wilayah rayon sebagai bahan advokasi.
6.
Suarakan kepentingan pelaku usaha kecil seperti UD.
Rimba Karya dan Basis Store Paperbag dalam forum mahasiswa dan masyarakat
sipil.
Level 3
— Sosial: Gerakan Transformatif
7.
Dorong lahirnya wirausahawan muda PMII yang mengelola
usaha dengan nilai-nilai Islam: kejujuran, keadilan upah, dan kepedulian
lingkungan.
8.
Jadikan PMII sebagai jembatan antara akademisi ekonomi
dan masyarakat, khususnya sektor informal yang sering tidak terwakili dalam
kebijakan.
9.
Kawal implementasi kebijakan publik seperti MBG agar
benar-benar sampai ke kelompok paling rentan—bukan hanya menjadi angka dalam
laporan BPS.
|
Penutup: Kader PMII sebagai
Agen Perubahan Ekonomi |
|
Pemahaman
ekonomi mikro dan makro bukan tujuan akhir. Ia adalah modal intelektual untuk
menjadi kader yang benar-benar berpihak—bukan hanya bersuara. Ketika kita
memahami mengapa harga telur naik (karena permintaan MBG mendorong sektor
peternakan tumbuh 11,84%), kita bisa berbicara lebih jernih kepada
masyarakat. Ketika kita memahami bahwa pertumbuhan 5,61% masih menyisakan
pertanyaan tentang distribusi, kita bisa mendorong kebijakan yang lebih adil.
Itulah Dzikir, Fikir, dan Amal Shalih dalam makna yang paling operasional. |
Wallahul Muwafiq Ila Aqwamith Thariq
PMII Rayon Ekonomi & Bisnis —
Komisariat Bela Negara, UPN Veteran Jawa Timur
Dzikir, Fikir, dan Amal Shalih

0 comments:
Silahkan Bacot